KOMPETENSI PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
Proses pembelajaran pada murid tidak
tergantung pada aspek kecerdasan atau kemampuan kognitif saja, tetapi juga
dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek perkembangan emosi dan
sosial. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh terhadap perilaku murid,
orang lain dan lingkungannya. Pada murid usia dini aspek emosi sosial ini
dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial. Dimana belajar sosial
emosional adalah nilai mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai yang
diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal murid
dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Pembelajaran
sosial emosional ini dapat dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman
pendidikan karakter kepada murid usia dini. Ada empat kompetensi kunci pengembangan
dalam aspek sosial emosional murid.
- Kesadaran diri (self
awareness)
Self awareness berkaitan dengan
kemampuan untuk mengenali diri secara akurat mengenai emosi, pikiran dan nilai
atau value diri. Seseorang yang memiliki kesadaran tinggi yang tinggi mampu
mengenali keterkaitan antara perasaan, tindakan dan pikiran yang dilakukan.
Apakah hanya itu saja? Tidak.
Orang yang punya kesadaran diri yang
tinggi akan mampu menilai secara akurat kekuatan dan keterbatasan diri.
Alhasil, tingkat percaya dirinya, mindset, optimisnya sangat kuat. Karena hal
tersebut, kesadaran diri perlu ditanamkan sejak kecil untuk membantu tumbuh
kembang anak.
Lantas, kemampuan apa saja yang
berkaitan dengan kesadaran diri? Setidaknya ada 5 kemampuan yang berkaitan
dengan kesadaran diri, yaitu:
1.
Mengidentifikasi emosi: seseorang harus
mengidentifikasi emosi yang dimiliki karena mosi ini berkaitan erat dengan
aktivitas yang dilakukan. Jika tak mampu mengidentifikasi diri dan
mengontrolnya, seseorang akan kesulitan untuk beraktivitas dan bersosialisasi.
2.
Self-perception yang akurat karena pada
dasarnya kesadaran diri berkaitan dengan diri sendiri. Anak perlu mengenali
bagaimana dirinya, apakah baik atau buruk. Dengan begitu, anak akan paham dan
mengerti dirinya sendiri dan mengontrol dirinya termasuk tingkah lakunya.
3.
Mengenali keunggulannya karena masing-masing
anak memiliki keunggulan yang berbeda. Mengenali sisi plus dari anak bisa
membantu perkembangan sosial emosinya. Jadi, anak bisa fokus pada keunggulan
yang ada di dirinya dan bukan fokus kekurangan.
4.
Memiliki kepercayaan diri yang akan sangat
berpengaruh untuk kehidupan sosialnya. Misalnya berinteraksi dengan orang lain.
5.
Memiliki keyakinan diri untuk mencapai tujuan
dengan kemampuan yang dimiliki.
- Manajemen diri
Kompetensi manajemen diri ini
berkaitan mengenai kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, perilaku di
berbagai situasi. Kemampuan ini juga berkaitan dengan penanganan stress,
mengontrol hasrat, bertahan menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan. Ada 6
kemampuan yang berkaitan dengan manajemen diri, yaitu:
1.
Menahan hasrat atau nafsu yang berkaitan dengan
menunda perayaan atau kepuasaan diri sendiri. Kemampuan ini juga berkaitan
dengan unjuk gigi di saat yang tepat atau berfikir terlebih dahulu sebelum
bertindak. Dengan begitu, anak bisa tahu, kapan harus bertindak dan kapan harus
menahan diri.
2.
Manajemen stress untuk membantu anak bertahan
di kondisi tertentu, misalnya saat belajar, sehingga tujuannya tercapai.
3.
Mendisiplinkan diri dan dalam hal ini termasuk
mengontrol perasaan dan hasrat diri. Self-discipline juga bisa dikatakan
sebagai kemauan diri untuk menahan diri agar bisa fokus ke tujuan yang sudah
dibuat.
4.
Mengatur tujuan yang ingin dicapai. Dalam
mengatur goal perlu mempertimbangkan SMART untuk menyesuaikan dengan kemampuan
anak. SMART adalah singkatan dari specific, measurable, attainable, realistic,
timely.
5.
Memotivasi diri: anak butuh dorongan dari dalam
dirinya sendiri agar bisa bertindak untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Tanpa adanya motivasi diri, seseorang hanya bisa berjalan di tempat dan tidak
akan mengalami proses yang berarti.
6.
Kemampuan berorganisasi yang akan bermanfaat
untuk mengatur informasi dan waktu. Dengan begitu, anak akan lebih
terorganisir, produktif dan memaksimalkan waktu serta menyaring informasi yang
relevan dengan tujuan.
- Kesadaran sosial
Kesadaran sosial berkaitan dengan
kemampuan untuk bisa berempati dengan orang lain dan mengambil perspektif dari
berbagai sudut pandang. Singkatnya, kemampuan ini berkaitan erat dengan norma
dan etika berperilaku terutama di kelompok misalnya di masyarakat. Kemampuan
akan kesadaran sosial ini sangat membantu anak untuk bisa memahami dan
menghormati orang lain. Kemampuan ini tentu akan sangat bermanfaat ketika anak
dewasa dan menemui banyak orang dengan latar belakang yang berbeda.
Bagaimana jika seseorang tidak punya
social awareness? Orang tersebut akan tumbuh dengan rasa benci, mudah
menghakimi dan tidak bisa berpikiran terbuka. Orang tersebut fokus pada dirinya
sendiri dan masa bodoh dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Maka dari itu,
sejak kecil anak perlu dibimbing dan dilatih mengenai kesadaran sosial. Ada 4
kemampuan atau skill yang perlu dimiliki, yaitu:
1.
Pengambilan atau melihat dari perspektif:
kemampuan ini berkaitan erat dengan pemahaman dari sudut pandang yang berbeda
di kondisi dan situasi tertentu. Anak perlu belajar untuk mencoba memahami
situasi yang berbeda untuk memahami kondisi sekitarnya.
2.
Empati berkaitan dengan memahami apa perasaan
orang lain karena seakan menempatkan diri di posisi orang tersebut.
3.
Mengapresiasi dan menghormati perbedaan yang
dimiliki antar individu. Jadi, anak Anda tidak membeda-bedakan orang
berdasarkan pada asalnya, bahasanya, kulit tubuhnya, kondisinya, jenis
kelaminnya, kepercayaannya terutama saat berteman.
4.
Menghormati orang lain dengan pikiran terbuka
dan tidak sembarangan melakukan penghakiman atas kondisi tertentu. Dalam
melatih anak, cobalah untuk memulai untuk mengajarkan pada anak untuk tidak
saling membenci. Anda juga bisa menunjukkan dengan tindakan bagaimana cara menghormati
dan berpikiran terbuka.
- Kemampuan berelasi
Kemampuan ini berkaitan dengan
kemampuan seseorang untuk membangun dan memelihara suatu hubungan yang sehat
antar individu dan kelompok. Dengan kata lain, kemampuan berelasi ini berkaitan
erat dengan kemampuan berkomunikasi seseorang. Bayangkan, tanpa adanya
komunikasi, apakah seseorang bisa bersosialisasi dengan baik? Tidak. Kemampuan
berelasi ini akan sangat bermanfaat untuk anak ketika bekerja sama dalam tim,
baik tim kecil ataupun tim besar. Kemampuan berelasi ini juga berkaitan dengan
kemampuan seseorang untuk bertahan dari tekanan, meminta atau menawarkan
bantuan ke orang lain. Ada 6 kemampuan atau skill yang perlu dipahami dalam
kompetensi relationship skill, yaitu:
1.
Berkomunikasi dengan jelas: komunikasi yang
Anda tangkap mungkin berkaitan dengan berbicara atau menyampaikan pendapat.
Namun, komunikasi dalam hal ini juga berkaitan dengan memahami gesture atau
bahasa tubuh, ekspresi sehingga bisa meminimalisir kesalahpahaman.
2.
Mendengarkan dan meresponnya dengan baik. Untuk
menjadi pendengar yang baik, tentu kemampuan kontak mata, fokus, memahami
ekspresi muka dan memberikan jawaban diperlukan.
3.
Bekerja sama dengan yang lain untuk meraih
tujuan. Dalam kemampuan ini, sebagai individu, anak dituntut untuk beradaptasi
dan bekerja sama dengan yang lainnya. Dengan begitu, anak akan lebih
menghormati pendapat orang lain dan bekerja sama untuk keperluan tim.
4.
Tahan dari tekanan sosial dan kemampuan ini
sangat erat kaitannya dengan self management skill. Anak yang mampu bertahan
dari tekanan sosial dapat bertahan untuk tidak terlibat dengan sesuatu yang
berpotensi merusak diri.
5.
Perundingan masalah secara konstruktif yang
melibatkan pencapaian untuk saling memuaskan dan memenuhi kebutuhan dari semua
pihak. Dengan kata lain, skill ini berkaitan erat dengan musyawarah mufakat
untuk membuat dan menentukan solusi yang adil untuk semua pihak.
6.
Menawarkan dan mencari bantuan jika diperlukan
karena tidak semua orang mampu bertahan di kondisi yang berbeda-beda. Jadi,
perlu pemahaman yang baik untuk mengenali situasi dan apa yang
dibutuhkan/ditawarkan ke orang lain. Dengan begitu, aktivitas bisa berjalan
dengan baik dan mencapai tujuan.
- Pembuat Keputusan Yang
Bertanggung Jawab
Kemampuan ini berkaitan dengan
pembuatan pilihan konstruktif yang benar dan cara bertindak sesuai etis, norma
sosial dan keselamatan. Namun pertanyaannya, bagaimana seseorang terutama anak
tahu mana yang benar dan mana yang salah? Bagaimana pula memutuskan sesuatu
dengan benar sesuai situasi dan kondisi? Orang dewasa secara alami mampu
menilai dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sedangkan untuk
anak, Anda masih perlu memberitahu mana yang benar dan mana yang salah. Untuk
lebih jelasnya, ada 5 skill yang berkaitan erat dengan responsible decision
making yang perlu Anda tahu, yaitu:
1.
Mengidentifikasi masalah: apakah masalah yang
dihadapi tersebut mudah atau susah. Dalam pembelajaran, anak akan dihadapkan
dalam suatu masalah dan biarkan anak untuk bertindak sendiri. Lihat dan bimbing
apakah anak mampu mengidentifikasi masalahnya atau justru sebaliknya dan butuh
bantuan dari orang dewasa.
2.
Menganalisa situasi yang berkaitan erat dengan
mengidentifikasi masalah. Untuk menganalisa situasi, tentu anak Anda harus
melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, anak Anda bisa
mengetahui masalahnya seperti apa dan cara mengatasinya.
3.
Mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal ini,
anak harus tahu kemungkinan yang akan terjadi jika keputusan tersebut diambil.
Misalnya apakah akan merugikan salah satu pihak atau cukup adil untuk semua
pihak.
4.
Mempertimbangkan tanggung jawab dari keputusan
yang diambil. Dalam pembelajaran, anak perlu mempertimbangkan mengenai norma
yang berlaku.
5.
Evaluasi dan introspeksi diri sebagai bentuk
perubahan atas keputusan yang diambil. Anak perlu tahu apakah keputusan
tersebut tepat atau tidak dan kemudian mengevaluasi sehingga ada perbaikan di
masa depan.
Perlu digaris bawahi, pembelajaran
mengenai Social Emotional Learning tidak hanya dilakukan di sekolah. Dalam
lingkup yang lebih besar, keluarga, komunitas dan lingkungan sekitar juga
berperan serta dalam sosial emosional anak. Dengan begitu, sosial emosional
yang dimiliki anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pada dasarnya pembelajaran sosial
emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif diseluruh
komunitas sekolah. Proses kolaborasi memungkinkan murid disekolah
memperoleh dan dapat menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif
mengenai aspek sosial dan emosional, sedangkan pembelajaran berdeferensiasi
merupakan serangkaian keputusan yang masuk akal yang dibuat oleh guru yang
berorientasi kepada kebutuhan murid. Pembelajaran sosial emosional dan
pembelajaran Berdeferensiasi dilakukan dengan tetap memperhatikan kebutuhan
murid dalam rangka mewujudkan merdeka belajar serta proses pembelajaran yang
berpihak pada murid. Untuk melaksanakan kedua pembelajaran maka diperlukan
tujuan pembelajaran yang efektif agar tidak terjadi masalah pada proses
pembelajaran dikelas. Pembelajaran bisa dimulai dengan Berdoa sebagai bentuk
proses menciptakan perasaan murid tentang keyakinan beragama yang dapat
membentuk emosi murid tentang perilaku kebaikan. Kemudian dilanjutkan memberikan
kesempatan kepada murid untuk membuat keputusan pembelajaran yang menyenangkan,
tapi sebelumnya murid diajak untuk dapat menjawab pertanyaan atau memberikan
contoh dari materi pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru, setelah itu
membuat keyakinan kelas agar dalam proses pembelajaran tidak terjadinya hal -
hal yang diinginkan oleh guru, ini berarti dengan tidak secara langsung guru
telah melakukan pembelajaran sosial emosional terhadap murid dan terhubung
dalam rencana tujuan pembelajaran berdeferensiasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar