Senin, 04 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI COACHING, PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

 

Coaching adalah bentuk kemitraan yang terbangun antara coach dan coachee, untuk memaksimalkan potensi pribadi dan professional coachee melalui proses kreatif guna merangsang dan mengeksplorasi pikiran agar dapat memaksimalkan potensi pribadi serta professional. Merujuk pada istilah kemitraan tersebut, maka tidak ada hal yang menarik antara coach dengan coachee. Coach dan coachee berada posisi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Dalam konteks kemitraan itu pula, proses yang terjadi didalam pembinaan adalah proses dialog, komunikasi dua arah dan saling memahami satu sama lain dalam suasana yang produktif. Coach membantu coauchee lebih memahami dirinya sendiri, baik memahami hal-hal yang diinginkan maupun kekuatan-kekuatan yang dimiliki.

Didalam filosofi Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebgai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahanagar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut sebagai pendidikan yang berpihak kepada murid. Untuk mencapai kebahagian dan keselamatan dalam konteks pendidikan, guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran social dan emosi. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosi adalah wujud penghambaan guru terhadap murid.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak biasa diberikan perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran yang memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan tiga strategi berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar.


Pembelajaran sosial emosi adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaboratif ini mendukung anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Dengan pembelajaran sosial emosional diharapkan dapat memberikan pemahaman penghayatan dan kemampuan bagi murid untuk mengelola emosi( kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan posistif( pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif ( keterampilan membangun relasi) dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Peran guru sebagai coach dalam pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosi. Seorang guru tidak hanya mampu menjadi seorang yang dapat membantu murid dalam yang menjadi penyebab masalah dengan memberikan nasihat atau memberikan contoh pengalaman pribadi kepada siswa, tetapi juga harus mampu membimbing siswa menemukan jalan keluar sendiri dalam mengatasi masalahnya. Tugas guru yang terakhir inilah disebut coach. Coah adalah orang yang membimbing seseorang dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Coachee adalah orang yang dibimbing dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Coaching adalah proses pembimbingan yang dilakukan oleh coachee sehingga coache dapat menemukan jalan keluarnya sendiri atas masalah yang dihadapi. Dalam hal ini guru bertindak sebagai coach dan siswa sebagi coachee. Dalam menjalankan peran coach, guru dapat menggunakan model TIRTA. Tirta adalah akronim dari Tujuan utaman (T), Identifikasi (I), Rencana aksi (R) dan Tanggung jawab (T)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar